Fellowship Journalism, Menanam di BRInita Buruan Sae Pajajaran Hegar Kota Bandung
AYORIAU.CO, JAKARTA - Di tengah perkembangan kawasan perkotaan yang semakin pesat, keterbatasan lahan menjadi salah satu tantangan dalam menjaga ketersediaan pangan sekaligus kualitas lingkungan. Konsep urban farming menjadi salah satu pendekatan yang dapat dilakukan dengan mengoptimalkan ruang terbatas di tengah permukiman menjadi lahan produktif untuk bertani dan berkebun.
BRI melalui BRI Peduli mengembangkan BRInita atau BRI Bertani di Kota, yaitu program pemberdayaan masyarakat berbasis urban farming yang mendorong pemanfaatan lahan terbatas menjadi ruang produktif. Program ini tidak hanya diarahkan untuk mendukung ketahanan pangan, tetapi juga membangun kapasitas masyarakat agar mampu mengelola pertanian perkotaan secara mandiri dan berkelanjutan.
Sebagai bagian dari rangkaian Inaugurasi BRI Fellowship Journalism 2026, Jumat, 30 Oktober 2026, BRI mengajak jurnalis terpilih dari berbagai wilayah di Indonesia untuk melihat secara langsung praktik pemberdayaan masyarakat dan pengelolaan lingkungan melalui kegiatan Fellowship Journalism Menanam di BRInita Buruan Sae Pajajaran Hegar RW 03, Kota Bandung.
Para peserta tidak hanya memperoleh pemahaman mengenai konsep urban farming, tetapi turut terlibat dalam aktivitas masyarakat mulai dari menyemai benih, menanam bibit, melakukan penyiraman hingga memanen tanaman. Melalui kegiatan ini, para jurnalis dapat melihat bagaimana ruang terbatas di kawasan perkotaan dapat dikelola secara kolaboratif untuk menghasilkan manfaat pangan, sosial, dan lingkungan.
Senior Manager Corporate Secretary Division BRI, Agusman Muhammad Latif menjelaskan program urban farming menjadi salah satu pendekatan yang didorong BRI untuk membantu meningkatkan ketahanan pangan masyarakat, terutama di kawasan perkotaan yang memiliki keterbatasan lahan.
Menurutnya, pemanfaatan lahan terbatas dapat menjadi solusi untuk menghadirkan sumber pangan produktif di lingkungan permukiman. Melalui urban farming, kami ingin mendorong peningkatan ketahanan pangan masyarakat dengan mengoptimalkan lahan yang terbatas. Lahan yang tersedia bisa dimanfaatkan untuk menanam berbagai jenis sayuran dan tanaman pangan.
"BRInita Buruan Sae Pajajaran Hegar berlokasi di RW 03, Kelurahan Pajajaran, Kecamatan Cicendo, Kota Bandung menjadi salah satu titik pelaksanaan Program BRInita dari BRI Peduli.
Memanfaatkan area sepanjang sekitar 60 meter dengan lebar 5 meter, masyarakat mengembangkan beragam tanaman pangan, buah, serta tanaman herbal dan rempah. Pengelolaan dilakukan bersama masyarakat, termasuk melalui Kelompok Wanita Tani (KWT) Buruan Sae Pajajaran Hegar," paparnya.
Saat ini terdapat beragam komoditas yang dikembangkan, di antaranya 14 jenis sayuran dan umbi, antara lain terong, pakcoy, kangkung, bayam, tomat, brokoli, sawi romaine, kacang merah, buncis kenya, paria, katuk, ubi jalar, dan ubi yakon. 8 jenis buah-buahan, yaitu jeruk sambal, jeruk angka 8, jambu batu, jambu air, sawo, lengkeng, belimbing, dan pisang. 8 jenis tanaman herbal dan rempah, yakni cengkeh, sirih, lidah buaya, pandan, daun salam, serai, kunyit, dan jahe.
Hasil panen dari kawasan tersebut dimanfaatkan oleh masyarakat untuk kebutuhan pangan sehari-hari dan mendukung kegiatan sosial di lingkungan sekitar, termasuk Pemberian Makanan Tambahan (PMT) Posyandu dan masyarakat lanjut usia.
Dengan demikian, keberadaan BRInita tidak hanya menghasilkan komoditas pertanian, tetapi turut membangun ekosistem pangan pada tingkat komunitas dengan mengoptimalkan sumber daya yang tersedia di lingkungan tempat tinggal masyarakat.
Dukungan BRI untuk BRInita Buruan Sae Pajajaran Hegar
Agusman mengulaskan, pengembangan BRInita Buruan Sae Pajajaran Hegar turut diperkuat melalui dukungan sarana pertanian, perlengkapan budidaya, serta pengembangan produk yang diberikan secara bertahap pada 2025–2026.
Beberapa dukungan yang telah diberikan antara lain pada 2025, BRI menyalurkan 16 jenis bantuan yang mencakup infrastruktur kebun, media tanam dan pupuk, bibit, pot tanaman, serta alat kebun. Selain itu, bantuan tersebut termasuk 200 tanaman siap tanam, 250 pot tanaman, benih kangkung, pupuk, tandon air 500 liter, instalasi siram tetes, serta berbagai peralatan kebun. BRI juga mendukung pengembangan vertical garden melalui 3.460 pot dan bibit tanaman beserta teralis pendukung.
•"Pada 2026, dukungan diperluas menjadi 28 jenis barang dan perlengkapan, mulai dari polybag dan pot, tray semai, bibit sayuran, perlengkapan perawatan tanaman, hingga sarana pengelolaan sampah. Dukungan budidaya juga mencakup bibit pakcoy, sawi, dan kangkung, perlengkapan budikdamber, serta 200 bibit lele untuk mendukung pengembangan pertanian terpadu," kata Agusman.
Pada aspek pengelolaan lingkungan, disediakan tempat sampah organik dan anorganik serta berbagai perlengkapan perawatan tanaman. BRI juga memberikan dukungan untuk pengembangan kemasan produk olahan, termasuk desain dan cetak kemasan untuk produk seperti minuman bunga telang dan cheese stick pakcoy.
Dukungan tersebut melengkapi kegiatan pemberdayaan dan pelatihan yang diberikan kepada masyarakat, sehingga pengelolaan BRInita tidak hanya berfokus pada budidaya tanaman, tetapi juga mencakup pengolahan hasil, pengelolaan lingkungan, dan pengembangan produk.
Dukungan BRI tidak berhenti pada penyaluran sarana fisik. Selain memberikan support berupa rumah tanaman atau green house serta bibit tanaman urban farming, BRI Peduli juga berkomitmen untuk terus mendorong peningkatan pengetahuan dan keterampilan masyarakat melalui kegiatan pemberdayaan.
Melalui pendampingan, masyarakat sekitar juga memperoleh pelatihan terkait pengelolaan urban farming sehingga dapat mengembangkan dan merawat lahan secara mandiri. Edukasi budidaya buah-buahan juga diberikan untuk meningkatkan kemampuan masyarakat dalam menghasilkan produk pertanian yang berkualitas, memiliki nilai gizi, serta berpotensi memberikan nilai ekonomi.
"Kegiatan panen raya menjadi bagian dari proses tersebut. Panen tidak hanya menjadi momentum menikmati hasil pertanian, tetapi turut menjadi ruang interaksi masyarakat untuk memperkuat kebersamaan, gotong royong, serta kesadaran mengenai pentingnya membangun ketahanan pangan dari lingkungan terdekat" ucapnya.
Selain menghasilkan pangan, pengelolaan BRInita turut memberikan manfaat bagi lingkungan perkotaan. Kehadiran tanaman membantu menambah ruang hijau dan keasrian lingkungan, sementara pengelolaan limbah organik menjadi bagian dari praktik pertanian yang diterapkan masyarakat.
Melalui berbagai lokasi pelaksanaan BRInita, masyarakat juga mengembangkan pupuk organik cair, eco enzyme, produk olahan pupuk hingga budidaya maggot Black Soldier Fly (BSF). Pendekatan tersebut menghubungkan kegiatan pertanian dengan pengelolaan sampah rumah tangga sehingga sumber daya yang tersedia dapat dimanfaatkan kembali secara produktif.
Pelaksanaan BRInita juga mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs), antara lain terkait ketahanan pangan, kehidupan sehat dan sejahtera, pemberdayaan perempuan, kota dan permukiman berkelanjutan, konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab, serta penanganan perubahan iklim.
Program ini turut mendukung Asta Cita Pemerintah, khususnya dalam mendorong kemandirian bangsa melalui swasembada pangan serta pengembangan ekonomi hijau berbasis pemberdayaan masyarakat.
Agusman menambahkan, capaian Program BRInita sejak dijalankan pada 2021, Program BRInita telah berkembang di 40 kelompok penerima manfaat yang tersebar di 17 Regional Office dan 16 provinsi. Beberapa capaian utama Program BRInita sepanjang 2021–2026 antara lain menjangkau 764 penerima manfaat langsung dan 961 penerima manfaat tidak langsung. Menghasilkan lebih dari 31,7 ton sayur dan buah dengan nilai sekitar Rp914,5 juta. Menghasilkan 4,7 ton hasil perikanan senilai sekitar Rp56,5 juta. Mengembangkan 70 produk olahan turunan, dengan pendapatan kelompok mencapai hingga Rp5,2 juta per bulan. Menyelenggarakan 62 sesi pelatihan untuk memperkuat kapasitas masyarakat dalam urban farming, pengelolaan sampah organik, dan pengembangan produk.
"Menghadirkan 40 titik ruang terbuka hijau dengan luas sekitar 4.000 meter persegi. Mengolah 4,7 ton limbah organik dan menghasilkan lebih dari 12 ribu liter pupuk organik cair. Mencatat efisiensi emisi gas rumah kaca sebesar 792,63 kg CO2-eq. Mendukung 31 balita memperoleh makanan sehat dari olahan sayur dan buah," sebutnya.
Capaian tersebut menunjukkan bahwa BRInita dikembangkan tidak hanya sebagai kegiatan bercocok tanam di kawasan perkotaan, tetapi sebagai program pemberdayaan yang menghubungkan aspek pangan, kesehatan, lingkungan, kapasitas masyarakat, dan kualitas hidup.
Melalui BRInita, BRI Peduli mendorong agar ruang-ruang terbatas di tengah kota dapat berkembang menjadi sumber pangan sekaligus ruang kolaborasi yang memberikan manfaat berkelanjutan bagi masyarakat.*

Berita Lainnya
KUR BRI Tembus Rp84,36 Triliun, Perkuat Ketahanan Pangan dan Ekonomi Kerakyatan
Anggota DPR RI Mafirion Minta Polisi Tuntaskan Kasus Dugaan Pemerkosaan Remaja di Sampang
Waspada Penipuan, BRI Imbau Masyarakat Waspada Kenali Modus Link Palsu
BRI Apresiasi Penempatan Dana SAL Pemerintah
Satu Tahun Danantara Indonesia: BRI Komitmen Perkuat Generasi Indonesia
Transformasi BRIvolution Reignite, Segmen Commercial BRI Tumbuh Double Digit
Hadir Serentak di 131 Lokasi dengan Penawaran Menarik, BRI KKB National Expo Torehkan Rekor MURI
Fundamental Kuat, BRI Sambut Positif Dukungan Berbagai Pihak terhadap Pasar Modal
BRI Perkuat Peran sebagai Penggerak Ekonomi Kerakyatan melalui Pembiayaan Perumahan
Seorang Anak Pedagang Keliling di Inhil Lulus Murni Jadi TNI AD
Mengenal Narsun, BRILink Agen Juragan Sukses Perluas Perlindungan Sosial bagi 7 Ribu Pekerja Informal
BeeFam s Kembangkan Usaha Madu Trigona di Jakarta Barat melalui LinkUMKM BRI