Talkshow Dampak Karhutla Universitas Abdurrab, Bahaya Mengancam Paru-paru Hingga Otak Anak


AYORIAU.CO, PEKANBARU - Dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terhadap kesehatan masyarakat menjadi perhatian serius Universitas Abdurrab. Persoalan tersebut dibahas dalam talkshow kesehatan yang digelar dalam rangkaian Milad ke-32 Yayasan Abdurrab, Jumat (28/8/2026) di Susiana Tabrani Convention Hall.

Talkshow menghadirkan tiga narasumber dari Fakultas Kedokteran Universitas Abdurrab. Yakni Dr. dr. Uly Astuti Siregar, M.Biomed, dr. Feriandri Utomo, M.Biomed, serta dr. Nur Afrainin Syah, M.Med.Ed., PhD, Sp.KKLP, Subsp. FOMC.

Para narasumber mengupas dampak kabut asap karhutla secara komprehensif. Mulai dari gangguan pernapasan, kesehatan mata, hingga potensi dampak paparan polusi udara terhadap perkembangan otak, terutama pada anak-anak.

Bukan Sekadar Gangguan Pernapasan

Dr. dr. Uly Astuti Siregar mengatakan, persoalan karhutla di Riau tidak boleh dipandang hanya sebagai masalah lingkungan. Kabut asap yang ditimbulkan dapat memberikan dampak luas terhadap kehidupan masyarakat, termasuk sektor ekonomi, pendidikan dan kesehatan.

Menurutnya, posisi Riau yang memiliki banyak wilayah lahan gambut membuat ancaman karhutla menjadi persoalan yang perlu ditangani secara serius. Asap yang dihasilkan juga berpotensi menyebar hingga ke wilayah lain, termasuk negara tetangga.

“Ini sangat krusial karena Riau didominasi lahan gambut dan berpotensi menghasilkan kabut asap hingga mengirim ke negara tetangga yang berbatasan langsung dengan Riau,” jelas Uly.

Ia menambahkan, salah satu ancaman utama dari kabut asap adalah partikel halus PM2.5. Ukurannya yang sangat kecil memungkinkan partikel tersebut masuk jauh ke dalam sistem pernapasan.

“Sebanyak 80 sampai 90 persen asap didominasi PM2.5. Partikel ini menyerang langsung paru-paru dan dapat mengganggu sistem pernapasan,” ujarnya.

Uly mengingatkan, dampak paparan asap tidak selalu langsung dirasakan masyarakat. Paparan berulang dalam jangka panjang perlu menjadi perhatian karena dapat meningkatkan risiko berbagai gangguan kesehatan.

“Efek bahaya dari kabut asap yang dihirup memang tidak terasa saat ini, tetapi dampaknya dalam jangka panjang bisa sangat terasa. Kabut asap bukan hanya asap, tetapi ada partikel yang berbahaya,” katanya.

Karena itu, ia mengajak masyarakat tidak hanya melindungi diri ketika kabut asap sudah terjadi, tetapi juga ikut menjaga lingkungan dan mencegah terjadinya karhutla.

“Mari bersama-sama kita selamatkan keluarga dari bencana kabut asap ini dengan menjaga kelestarian alam,” ajaknya.

Paparan Polusi dan Ancaman bagi Otak Anak

Sementara itu, dr. Feriandri Utomo mengangkat sisi lain dari dampak karhutla yang masih jarang mendapat perhatian. Yakni potensi pengaruh polusi udara terhadap kesehatan otak.

Dalam paparannya bertajuk “Di Balik Asap Karhutla Riau: Kerusakan Otak yang Tak Pernah Dirisaukan”, Feriandri menjelaskan bahwa partikel polusi berukuran sangat kecil tidak hanya berpotensi mengganggu sistem pernapasan, tetapi juga menjadi perhatian dalam penelitian mengenai kesehatan otak.

Ia menggambarkan buruknya kualitas udara yang dapat terjadi ketika karhutla melanda Riau. Menurutnya, kondisi kualitas udara di Pekanbaru pernah mencapai level sangat buruk saat karhutla besar terjadi.

“Pada 2019, saat karhutla, angka kualitas udara di Pekanbaru bisa mencapai 500. Sekarang ketika terjadi karhutla bisa berada di kisaran 100 hingga 200,” jelasnya.

Feriandri mengatakan, sejumlah penelitian eksperimental menunjukkan adanya kemungkinan partikel polusi masuk melalui saluran penciuman dan mencapai jaringan otak. Salah satu mekanisme yang menjadi perhatian adalah stres oksidatif, ketika radikal bebas dapat memicu kerusakan pada sel.

Menurutnya, anak-anak merupakan kelompok yang sangat rentan terhadap paparan polusi udara. Sistem pertahanan tubuh mereka masih berkembang dan frekuensi pernapasan anak relatif lebih tinggi.

“Anak-anak adalah sasaran yang paling rentan. Sistem penangkalnya belum matang dan mereka bernapas lebih cepat, sehingga dosis polutan yang masuk juga bisa lebih banyak,” katanya.

Paparan PM2.5, lanjutnya, juga menjadi perhatian karena sejumlah penelitian menemukan adanya hubungan antara paparan polusi udara dengan perubahan pada struktur dan perkembangan otak.

Dampaknya terhadap anak dapat berkaitan dengan kemampuan konsentrasi, proses belajar dan perilaku. Karena itu, paparan asap karhutla yang berulang perlu menjadi perhatian, khususnya bagi anak-anak yang tinggal di wilayah rawan.

“Kalau anak terpapar asap, kita perlu waspada terhadap dampaknya terhadap perkembangan otak, termasuk masalah konsentrasi dan perilaku,” ujarnya.

Feriandri juga mengingatkan bahwa dampak paparan polusi udara jangka panjang masih membutuhkan penelitian lebih mendalam. Namun, potensi kaitannya dengan gangguan kesehatan neurologis di kemudian hari menjadi alasan penting untuk meningkatkan pemantauan.

Ia mendorong adanya pemantauan kesehatan neurologis jangka panjang terhadap anak-anak di daerah yang berulang kali terdampak karhutla.

Selain itu, ia menilai standar kualitas udara perlu terus diperkuat, penegakan hukum terhadap pelaku karhutla dilakukan secara tegas, serta karhutla tidak hanya dipandang sebagai bencana lingkungan.

“Karhutla harus diakui sebagai bencana kesehatan, bukan sekadar bencana lingkungan,” tegasnya.

Anak, Lansia dan Ibu Hamil Masuk Kelompok Rentan

Sementara itu, Dekan FK Abdurrab, dr. Nur Afrainin Syah menyoroti dampak kabut asap terhadap berbagai kelompok masyarakat. Paparan asap dapat menyebabkan iritasi mata serta memperburuk kondisi penderita asma dan penyakit paru kronis.

Menurutnya, kelompok yang perlu mendapat perhatian lebih antara lain anak-anak, lansia, ibu hamil, penderita asma, penyakit paru obstruktif kronis (PPOK/COPD), serta masyarakat dengan penyakit kronis lainnya.

“Kita perlu waspada,” ujarnya.

Ia mengingatkan masyarakat untuk selalu memantau kualitas udara dan mengurangi paparan ketika kondisi udara memburuk.

Sejumlah langkah pencegahan dapat dilakukan, seperti mengurangi waktu berada di luar ruangan, menghindari aktivitas fisik berat ketika kualitas udara buruk, serta menutup pintu dan jendela agar asap dari luar tidak mudah masuk.

Penggunaan penyaring udara atau air purifier di dalam ruangan juga dapat menjadi salah satu upaya untuk membantu mengurangi konsentrasi partikel di udara.

Sementara bagi masyarakat yang harus beraktivitas di luar ruangan, penggunaan masker atau respirator yang dirancang untuk menyaring partikulat dapat membantu mengurangi paparan partikel halus.

Masyarakat juga diminta segera memperhatikan gejala seperti batuk, sesak napas atau iritasi mata yang muncul setelah terpapar asap.

“Cek kualitas udara, kurangi paparan, dan jangan abaikan gejala,” pesannya.

Dorong Kesadaran Bersama

Melalui kegiatan tersebut, Yayasan Abdurrab ingin meningkatkan kesadaran masyarakat bahwa karhutla memiliki dampak yang jauh lebih luas dibandingkan sekadar persoalan lingkungan.

Kabut asap dapat mengganggu aktivitas masyarakat dalam jangka pendek, sekaligus menjadi persoalan kesehatan yang membutuhkan perhatian dan pencegahan secara berkelanjutan.

Talkshow dalam rangka Milad ke-32 Yayasan Abdurrab tersebut sekaligus menjadi ruang edukasi bagi masyarakat untuk memahami risiko paparan asap dan langkah-langkah yang dapat dilakukan untuk melindungi kelompok rentan.

Upaya pencegahan karhutla pun dinilai membutuhkan keterlibatan seluruh pihak, mulai dari masyarakat, dunia pendidikan, tenaga kesehatan, pemerintah hingga pemangku kepentingan lainnya.

Dengan demikian, persoalan karhutla tidak berhenti pada upaya pemadaman api, tetapi juga mencakup perlindungan kesehatan masyarakat dan keberlanjutan lingkungan di Riau.*


[Ikuti Ayoriau.co Melalui Sosial Media]



Tulis Komentar