Mispa Kartini Modern, Rela Tembus Pegunungan Demi Literasi Keuangan
Start Sempurna, Futsal Inhil Libas Dumai Tanpa Ampun 5-0
Dari Inhil untuk Juara, Kontingen Futsal Dilepas ke Gubernur Cup 2026
Muscab PPP Inhil 2026 Siap Digelar, Ahmad Fuad di Tunjuk Jadi Plt Ketua
10 Provinsi di Afganistan Dikuasai Taliban
INTERNASIONAL, AYORIAU.CO- Taliban kini menang di Afghanistan. Kelompok tersebut resmi menguasai ibu kota Kabul, termasuk istana kepresiden, Minggu (15/8/2021).
Taliban sudah menguasai lebih dari 10 provinsi di negara itu Jumat (12/8/2021). Sabtu (14/8/2021) Taliban sudah merapat dan mendekati Kabul dan menutup akses keluar masuk kota itu.
Makin gencarnya Taliban di negeri itu terjadi pasca keputusan Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden yang meminta seluruh tentara angkat kaki per 31 Agustus. AS sendiri sudah melakukan evakuasi besar-besaran warganya dari Afghanistan sejak pekan lalu.
Kemarin, Taliban sendiri masuk ke Kabul dengan dalih menghindari penjarahan dan pencurian di kota itu. Pasalnya ada laporan polisi, aparat dan pegawai negeri sipil pendukung pemerintah sudah pergi meninggalkan kota itu.
Dikutip dari CNN International, bahwa mengabarkan bagaimana Taliban memasuki istana kepresidenan beberapa jam setelah mantan Presiden Ashraf Ghani meninggalkan negara itu. Ghani disebut lari meninggalkan negara itu ke Tajikistan.
Taliban mengklaim ada tiga pejabat pemerintahan Ghani yang hadir saat kejadian berlangsung. Seorang pejabat Taliban mengklaim pengambilalihan berlangsung damai.
"Penyerahan damai fasilitas pemerintah berlangsung damai di seluruh negeri," katanya dikutip Senin (16/8/2021).
Namun, melansir AFP, sebuah cuitan dari Twitter Istana Kepresidenan menyebut bagaimana tembakan terdengar di sejumlah titik kota Kabul. Sebuah klip video yang didistribusikan oleh Taliban menunjukkan orang-orang bersorak dan berteriak, ketika konvoi truk pick-up memasuki kota dengan para tentara mengacungkan senapan mesin dan bendera putih Taliban.
Kepanikan pun dilaporkan sempat terjadi di kota itu. Penduduk khawatir akan kembalinya pemerintahan "garis keras" Islam oleh kelompok itu.
Taliban sebelumnya pernah berkuasa dari 1996 hingga 2001. Pada saat itu sejumlah aturan ketat dilakukan termasuk pembatasan hak-hak perempuan.
"Para penduduk di kota tidak perlu takut dengan mujahidin. Pasukan kami memasuki kota dengan perlahan, mereka tidak akan mengganggu siapapun, dan menjamin para pegawai negeri sipil serta aparat keamanan tidak akan disakiti. Tidak ada mujahid yang diperbolehkan memasuki rumah penduduk atau menyakiti serta mengganggu siapapun," ujar Juru Bicara Taliban, Zabihullah Mujahit.
Ghani sendiri mendapat kecaman karena melarikan diri. Sebelumnya, ia berdalih pergi untuk menghindari pertumpahan darah yang lebih besar.
"Mereka mengikat tangan kami di belakang punggung kami dan menjual tanah air, sialan orang kaya dan gengnya," kata seorang pendukungnya Jenderal Bismillah Mohammadi merujuk Ghani dan sejumlah petinggi lain yang meninggalkan Afghanistan.

Berita Lainnya
Erisman Yahya Hadiri Pertemuan dengan Presiden Jokowi di Ibu Kota Nusantara
Mahasiswa Unri Kibarkan Bendera Merah Putih Dalam Perut Bumi di Rokan Hulu
Wamenag: Presiden Prabowo Siapkan Perkampungan Bagi Jemaah Haji dan Perluas Bandara Thaif
Sebut Istana Over Acting Sampai Cabut Kartu Peliputan, IWO: 'Merusak Asta Cita Presiden'
UMKM Binaan BRI Tembus Pasar Global di Ajang FHA Singapura 2026
Dibuka Presiden RI, Ketua Bawaslu Inhil Hadiri Rakornas Penyelenggaraan Pemilu
Dukungan BRI Bantu UMKM Asal Papua Japamo Tarik Minat Buyer Internasional
Jelang Armuzna, Tim Kemenag Tinjau Persiapan Sektor di Daker Makkah
Libur Lebaran 2026, BRI Pastikan Tetap Berikan Layanan Terbaik bagi Nasabah
PT SRL Berikan Bantuan Rp 300 Juta Kepada Tiga Desa di Inhil
Efek Perang Dagang Amerika vs China, Peluang dan Realisasi Masa Depan Indonesia
Mengenal Sejarah Kisah Kesaktian Jendral Soedirman Saat Dikepung Militer Belanda