Mispa Kartini Modern, Rela Tembus Pegunungan Demi Literasi Keuangan
Start Sempurna, Futsal Inhil Libas Dumai Tanpa Ampun 5-0
Dari Inhil untuk Juara, Kontingen Futsal Dilepas ke Gubernur Cup 2026
Polres Inhil Ungkap Kasus Narkoba, Seorang Pria Berhasil Diamankan
Analisis Data Pengukuran Stunting di Kecamatan Kemuning
AYORIAU.CO, INHIL - Kecamatan Kemuning terjadi penurunan persentase balita stunting dari tahun 2022 ke tahun 2023 meskipun masih ada 2 dari 12 desa yang terjadi peningkatan prevalensi stunting yaitu Desa Sekara dan Desa Lubuk Besar. Sedangkan di tahun 2024 kenaikan prevalensi stunting kembali terjadi di beberapa desa yaitu Desa Keritang, Selensen, Kemuning Tua, dan Kemuning Muda.
Garfik diatas menunjukkan bahwa adanya konvergensi program/intervensi upaya percepatan pencegahan stunting telah mampu menurunkan presentase balita stunting di Kecamatan Kemuning Kabupaten Indragiri Hilir. Namun belum maksimal, sehingga perlu peningkatan kerjasama dan komitmen semua pemangku kebijakan dan pelaksana program agar dapat lebih kompak dalam menangani kasus stunting tersebut.
Berbagai upaya yang telah dilakukan di Kecamatan Kemuning guna menurunkan angka stunting melalui perbaikan gizi di masa 1.000 HPK antara lain :
1. Pelatihan pencegahan dan penanggulangan stunting
2. Penyuluhan, sosialisasi ASI Ekslusif, Inisiasi Menyusu Dini (IMD), kesehatan reproduksi, Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (Germas)
3. Pemberian Tablet Tambah Darah (TTD) untuk ibu hamil dan remaja putri
4. Pemberian Makan pada Bayi dan Anak (PMBA)
5. Program penyehatan lingkungan
6. Penyediaan sarana dan prasarana air bersih dan sanitasi
7. Orang Tua Asuh Stunting
A. Faktor Determinan yang Memerlukan Perhatian di Kecamatan Kemuning
Faktor determinan yang masih menjadi kendala dalam perbaikan status gizi (stunting) balita khususnya baduta adalah :
1. Faktor lingkungan
Beberapa wilayah mengalami kesulitan dalam akses air bersih, belum memiliki jamban sehat. Selain dari segi ketersediaan jamban ataupun air bersih ada beberapa daerah yang mana hal tersebut merupakan perilaku yang sulit untuk diubah
2. Pelayanan Kesehatan
Pelayanan Kesehatan merupakan salah satu faktor yang berpengaruh terjadinya stunting, masih ada ibu hamil tidak mendapatkan pelayanan sesuai standar, masih ada bayi/balita tidak mendapatkan imunisasi dasar lengkap. Oleh Karena itu akan dilakukan aksi stunting ABCDE :
1. Aktif minum Tablet Tambah Darah untuk Remaja Putri dan Ibu Hamil serta di anjurkan juga untuk calon pengantin
2. Bumil pemeriksaan kehamilan
3. Cukupi konsumsi protein hewani
4. Datang ke Posyandu setiap bulan
5. Ekslusif ASI 6 bulan
3. Kesehatan reproduksi
Terkait kesehatan reproduksi masih ditemukan adanya pernikahan dini, sehingga tindak lanjut Pemerintah pada pernikahan dini adalah, memberi penyuluhan, melakukan bimbingan kepada anak remaja, calon pengantin, penyuluhan dan sosialisasi kesehatan reproduksi, melakukan kunjungan dan memberikaan remaja putri Tablet Tambah Darah (TTD). Untuk Kegiatan TTD pada remaja putri telah dilakukan Aksi Bergizi di Sekolah dengan rangkaian kegiatan : Senam bersama, sarapan pagi bersama, pemeriksaan Hemoglobin (HB), dan minum TTD
4. Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS)
Masih rendahnya masyarakat ber PHBS
Tidak Melakukan Inisiasi Menyusu Dini (IMD) dan tidak memberikan ASI Ekslusif
Balita usia diatas 2 tahun tidak lagi datang ke posyandu untuk melakukan penimbangan rutin
Balita mendapatkan paparan asap rokok dari orang tua
B. Perilaku Kunci Rumah Tangga 1.000 HPK yang Masih Bermasalah di Kecamatan Kemuning
Tim pencegahan dan penanggulangan stunting (TPPS) bersama dengan Puskesmas telah melakukan monitoring sekaligus analisa masalah yang terjadi di Desa. Dari hasil monitoring menunjukkan pelayanan ibu hamil, pola asuh balita, dan PHBS masih membutuhkan Intervensi dan pembinaan berupa :
1. Pemberian Makanan Tambahan (PMT) pada ibu hamil KEK dan anemia, bayi dan balita gizi kurang, gizi buruk dan stunting
2. Orang Tua Asuh yang membantu ibu hamil KEK dan Balita stunting
Dengan adanya penanganan tersebut di atas menunjukkan terjadinya penurunan kasus stunting, gizi kurang, gizi buruk, dan Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) dari ibu hamil Kurang Energi Kronis (KEK) dan Anemia
C. Kelompok Sasaran Beresiko
Kelompok beresiko yang perlu mendapatkan perhatian antara lain remaja putri, calon pengantin, ibu hamil, bayi, dan usia bawah dua tahun (Baduta). Mempersiapkan remaja putri untuk menjadi calon pengantin pada usia idealnya, sehingga pada saat hamil dapat menjadi ibu hamil yang sehat, berperilaku sehat dan bayi dalam kandungan lahir dengan selamat, sehat serta cerdas. Bayi yang telah dilahirkan tersebut berhak untuk dilakukan IMD. (Adv)

Berita Lainnya
Hasil Analisis Data Pengukuran Stunting di Kecamatan Tanah Merah
Bupati Inhil Ikuti Rapat Evaluasi Program Strategis Secara Virtual Bersama Mendagri, Ketua KPK Dan Kepala LKPP
Bupati HM WARDAN Lepas Pawai Ta'aruf Dan Buka Stand Bazar MTQ Ke-53 Tingkat Kabupaten Indragiri Hilir Tahun 2023
Bupati Inhil HM WARDAN Salurkan Bantuan Sosial Warga Terdampak Musibah Kebakaran Kelurahan Sungai Salak
Bupati Inhil Apresiasi Rapat Paripurna Milad Ke-55 Sesuai Protokol Kesehatan
Dinas PMD Inhil Sebut Pemilihan Kades Menggunakan E-Voting
Bunda Paud Inhil Hj. Zulaikhah Hadiri Malam Pembukaan Apresiasi Bunda Paud Tingkat Nasional Tahun 2023
Bupati Buka Konfercab IAI Inhil
Peringatan Harlah Muslimat NU Selesai Di Kecamatan Keritang, Bupati HM WARDAN Ajak Masyarakat Serius Tingkatan Akhlak Generasi Muda
IKBR Inhil Resmi Dikukuhkan, Bupati HM WARDAN Harapkan Kontribusi Bangun Daerah Menuju Lebih Baik
Pemkab Inhil Bersama Baznas Donasikan 141,5 Juta Rupiah Untuk Masyarakat Palistina
Sempat Fluktuasi, Angka Stunting di Desa Tegal Rejo Jaya Menurun Drastis di 2024